Selasa, 23 Maret 2010

Bisnis Telur Asin

TUGAS MAKALAH
KEWIRAUSAHAA
BISNIS TELUR ASIN SKALA RUMAHAN DIDAERAH JOGYAKARTA

Disusun oleh:
Lukman Permadi (08710041)



JURUSAN AGRONOMI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2009

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada seluruh umat manusia yang mengikuti petunjuk yang benar. Karena dengan limpahan rahmat berupa kenikmatan yang diberikan oleh-Nya kita dapat melakukan berbagai aktivitas yang semoga saja mendapatkan ridho dari-Nya. Dan bagi penulis sendiri, penulis dapat menyelesaiakan tugas makalah kewirausahaan dengan baik yang telah diberikan oleh dosen kepada mahasiswa.
Dalam makalah ini, selain dijelaskan mengenai pengertian kewirausahaan, juga dicantumkan contoh tentang bisnis skala rumahan, yakni bisnis telur asin dengan data-data konkrit beserta proses pembuatan sampai hasil panennya yang dipraktekkan oleh salah seorang ibu rumah tangga dijogyakarta.
Semoga dalam makalah yang penulis buat dapat memberikan maanfaat bagi para pembaca sehingga bisa memberikan suatu wacana dan menambah wawasan terutama bagi rekan-rekan mahasiswa yang akan berkecimpung dalam dunia bisnis sambil berkuliah.
Penulis telah berusaha, dalam penyajian makalah ini disusun sesistematis mungkin, akan tetapi penulis menyadari makalah yang telah disusun masih jauh dari sempurna. Dalam makalah ini banyak sekali kekurangan dan kelemahan, karena keterbatasan yang ada pada diri penulis. oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan sebagai sarana perbaikan penulisan diwaktu mendatang.

Malang, 25 April 2009


Penulis



DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR…………………….……….……..…………………….ii
DAFTAR ISI…………………………………..……….……….……………...iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang………………………………………..……………1
1.2. Tujuan………………………………………………..…………….3
BAB 11 PEMBAHASAN
2.1. Aplikasi Kewirausahaan dari Bisnis Telur Asin………..………….4
2.2. Syarat Menjadi Wirausahawan yang Baik………………..………..7
2.3. Proses Pembuatan Telur Asin dan Analisa Usaha………..………..9
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan………………………………………………..………14
3.2. Saran…………………………………………………..…………..14
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................15

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Wirausaha adalah seorang pembuat keputusan yang membantu terbentuknya sistem ekonomi perusahaan yang bebas, sebagian besar pendorong perubahan, inovasi, dan kemajuan. Diperekonomian kita, akan datang dari para wirausaha; yakni orang-oarang yang berani dan memiliki kemampuan untuk mengambil resiko dan akan mempercepat pertumbuhan perekonomiannya. Sekarang ini banyak kesempatan untuk berwirausaha, suatu karier kewirausahaan dapat mendukung kesejahteraan masyarakat menghasilkan imbalan finansial yang nyata (Justin, 2001)
Stereotip umum wirausaha memperluas karakteristik, seperti tingginya kebutuhan yang dipenuhi, keinginan untuk mengambil resiko. Kebutuhan bahan pangan dewasa ini semakian meningkat apalagi didorong dengan adanya jumlah penduduk yang semakin padat. Makanan pokok adalah salah satu hal yang harus dipenuhi oleh setiap orang untuk bisa bertahan hidup diantaranya adalah sumber protein. Karena protein adalah nutrisi yang sangat diperlukan oleh tubuh diantaranya untuk proses metabolisme sel, yang digunakan untuk protektor dalam membran sel.
Telur adalah sumber protein yang berkadar sangat tinggi. Dijogyakarta disalah satu industri rumah tangga, biasa memproduksi telur bebek yang dijadikan sebagai bahan dasar untuk pembuatan telur asin bisa memasok kebutuhan lauk-pauk diwarung-warung. Produksi telur asin sekarang ini yang terkenal adalah didaerah brebes. Brebes termasuk daerah yang sangat cocok untuk dijadikan pusat perbelanjaan telur asin yang begitu besar. Karena ditunjang dengan banyaknya para peternak bebek yang sukses, akan tetapi ini tidak menutup kemungkinan bahwa telur asin juga bisa diproduksi dimana saja, seperti didaerah jogja. Dari segi rasa telur asin yang berasal dari daerah brebes memang lebih legit dan mantap, tapi disini ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki keberanian dan kemampuan yang unik untuk berkreasi dan berinovasi bagaimana dia bisa menyaingi produk dari bribes, dengan tidak membutuhkan biaya yang terlalu banyak tetapi cukup efisien dengan modal yang sedikit. Inisiatif ini muncul ketika dia mencicipi telur asin yang dibelinya diwarung, rasa telur asin diwarung menurutnya tidak seenak yang ia rasakan, tidak tahu telur itu dari mana asalnya. Usaha untuk mencoba adalah karakter dari seorang ibu yang memiliki 4 orang anak tersebut untuk menghabiskan waktu senggangnya untuk berkreasi disamping ia adalah seorang guru yang sehari-harinya disibukkan dengan kegiatan mengajar murid-muridnya disekolah.
Keinginan yang kuat adalah suatu proses untuk menuju suatu keberhasilan berbisnis yang akan dicapainya walaupun bisnis itu hanya sekedar sampingan. Banyak wirausahawan memperhatiakan tingkat keingintahuan yang dapat disebut sebagai keinginan kuat untuk berbisnis dengan tujuan apapun, menciptakan ketabahan, dan kemauan untuk bekerja keras (Tambunan, 2002). Dari sinilah muncul ide kreatif baru yang bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan tambahan. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa setiap berwirausaha pasti ada saja hambatan yang menghalanginya, akan tetapi dengan adanya faktor penghambat tersebut, itu merupakan pemicu bagi kita untuk mengatasi resikonya.
Dengan demikian muncullah keberanian dari dalam diri kita untuk mengambil tindakan-tindakan dan inovasi-inovasi yang tepat dengan sasaran.
1.2. Tujuan
1. Memberi wawasan kepada kalangan mahasiswa khususnya pertanian tentang arti dari kewirausahaan itu sendiri.
2. Memberi dorongan kepada mahasiswa disamping belajar juga bisa sambil mempraktekkan dari apa yang telah dipelajarinya.
3. Agar mahasiswa mengetahui tentang seluk beluk berwirausaha bagai mana ia harus mengambil keputusan, menanggung resiko, menciptakan inovasi, dan bagai mana cara mengatur strategi yang baik.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Apiklasi Kewirausahaan dari Bisnis Telur Asin
Setiap orang secara terus-menerus mencari kesempatan untuk memulai suatu bisnis. Pada waktu mereka mencari pasar dan mampu menjalankan bisnis, mereka bertindak sebagai seorang wirausaha yang berpotensi, entah hal itu disadari oleh mereka atau tidak. Dengan tindakan dan memanfaatkan kesempatan yang ada, sebagaimana yang akan kita hadapi kita bisa menjadi wirausahawan (Iwantono, 2002).
Ditahun 2006, seorang ibu rumah tangga yang setiap hari bekerja sebagai guru olah raga disakah satu SDN jogyakarta menyempatkan waktu luangnya untuk berkreasi dan berinovasi dalam memproduksi telur asin, yang dijalani selama satu tahun. Berbekal dari keyakinan dan tekad usaha yang besar bahwa dengan usaha ini ia bisa menambah penghasilan tiap bulannya. Ibu ini juga mempunyai tanggungan 4 orang anak yang 3 diantaranya masih sekolah.
Pengusaha ini mengembangkan metode pembuatan telur asin yang berbeda dari yang lain layaknya orang lain membuat. Ibu ini lebih melirik untuk menguatkan dari segi cita rasa dengan sample yang pernah dicoba olehnya, bahwa telur asin yang biasanya terdapat diwarung-warung dari segi rasa kurang begitu fantastic. Dari sini ia mencoba untuk membuat telur asin yang dikerjakan dengan inovasi, dan kreasinya sendiri. Untuk modal awal hanya berbekal Rp 100.000.-, peralatan seperti ember 3 buah. Pasokan bahan baku seperti telur bebek relative murah. Ketika awal-awal memproduksi hanya bermodal 100 butir telur dengan harga Rp 900/butir. Ibu tri ini adalah contoh seorang wirausaha yang memulai dan menjalankan usahanya yang relative kecil dan itu pun hanya berlangsung selama satu tahun Karena ada beberapa kendala yang susah dicari diantaranya untuk pengadaan tenaga kerja, akan tetapi selama satu tahun ia mampu memproduksi 144000 butir telur. Dengan pemasukan kotor Rp 17280000 dengan keuntungan Rp 4.320.000,-.
Pemilik usaha ini menghabiskan waktu selama hari libur yakni hari sabtu dan minggu dengan satu orang karyawan, untuk mengembangkan telur asin ini dengan rasa yang berbeda dari lain. Ia ingin telur yang diproduksi kemudian dijualnya tidak hanya lezat, tapi juga mengandung kadar lemak, dan kolesterol yang rendah bila dibandingkan dengan jenis telur asin yang berasal dari brebes. Penjualannya melalui warung-warung yang ada didaerahnya yang kemudian barang tersebut dititipkan dengan stok 25 butir/warung, dengan ketentuan setiap seminggu sekali telur tersebut dikirimkan, bu tri membatasi stok tersebut untuk menghindari beban yang berlebihan pada sistem keuangannya untuk operasi produksi perbulan. Disamping itu juga dijual dikantornya dimana ia bekerja.
Bulan demi bulan dilalui, bu tri tetap bertahan pada hasil sampingan ini untuk terus berkembang. Begitu produk yang dikelola ini sedikit dikenal oleh sebagian orang, ada pihak lain, yakni supermarket langsung menawarinya untuk memesan telur dengan jumlah yang besar, tetapi ketika tawaran itu dilontarkan maka pengusaha ini agak sedikit ragu-ragu dikarnakan kekurangan karyawan dan stok bahan baku yang sulit didapat dan terbatas, karena peternak telur bebek diyogjakarta juga relatif sedikit, sehingga tawaran itu ia tolak tapi tetap beroperasi kewarung-warung makan disekitar desanya. Sudah berjalan 11 bulan memasuki bulan yang ke 12 sikaryawan izin untuk cuti. Pengusaha ini kemudian tetap berlanjut hingga berjalan ± setahun.
Kalau kita cermati memang bisnis skala rumahan juga sangat sedikit menguntungkan, tapi bagi kalangan seperti kita untuk proses pembelajaran sangat penting dan bisa menambah uang saku kalau kita mau mempraktekkannya, karena setiap orang bebas memasuki bisnis usahanya demi diri sendiri. Kita harus meraih sukses besar walaupun itu bermula dari usaha kecil-kecilan pada tingkat yang lebih stabil dalam kegiatan yang jauh berbeda dari yang diuraikan disini. Berbagai kegiatan wirausaha memberikan tingkat imbalan yang potensial. Sekarang mari kita mempertimbangkan keuntungan dan kerugian menjadi seorang wirausaha.
Imbalan Kewirausahaan
Laba
kebebasan dari batasan gaji
standar untuk pekerjaan yang
distandarisasikan Kebebasan
Bebas dari pengawasan dan
Aturan birokrasi organisasi Kepuasan Menjalani Hidup
Bebas dari rutinitas kebosanan
dan pekerjaan yang tidak menantang
hasil finansial dari bisnis apapun harus dapat mengganti kerugian waktu dan dana sebelum laba yang sebenarnya dapat direalisasikan. Wirausaha mengharapkan hasil yang tidak hanya mengganti kerugian waktu dan uang yang mereka investasikan, tapi juga memberikan imbalan yang pantas bagi resiko dan inisiatif yang mereka ambil dalam pengoprasian bisnis mereka sendiri. Banyak wirausaha tidak mengutamakan fleksibelitas disatu sisi saja. Akan tetapi, wirausahawan pada umumnya menghargai kebebasan yang ada dalam karier kewirausahaan. Mereka dapat mengerjakan urusan mereka dengan caranya sendiri, memungut labanya sendiri dan mengatur jadwalnya sendiri. Tentu saja kebebasan tidak menjamin kehidupan yang mudah. Banyak wirausahawan bekerja keras berjam-jam lamanya, tetapi mereka mendapatkan kepuasan dari keputusan yang mereka buat sendiri berdasarkan faktor ekonomi dan lingkungan. Wirausahawan sering kali menyatakan kepuasan yang mereka dapatkan dalam menjalankan bisnisnya sendiri. Terkadang orang mengatakan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan merupakan suatu kecerian (Lessem, 1992).
Menjadi wirausahawan yang baik syaratnya banyak sekali, salah satu syaratnya adalah wirausahawan tersebut harus mampu menilai kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi usahanya. Hal ini didasarkan pada faktor-faktor seperti teknologi, sumberdaya finansial, fasilitas yang dimiliki, sumber daya manusia yang dimiliki, banyaknya pesaing, jumlah penduduk, kondisi ekonomi masyarakat, dan lain sebagainya. Dengan mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari usahanya, maka pengusaha itu akan bisa menyusun langkah-langkah atau strategi yang digunakan untuk memajukan usahanya. Dari sini bisa terungkap bahwa faktor internal dan eksternal sangat berpengaruh dalam menjalankan sebuah bisnis.
2.2. Syarat Menjadi Wirausahawan yang Baik
kekuatan yang dimiliki oleh pengusaha telur asin tersebut diantaranya adalah:
1. Proses produksinya tidak terlalu sulit
2. Selalu ada modal untuk memproduksi yang didapat dari hasil mengajar sebagai seorang guru.
3. Belum ada persaingan yang begitu ketat sehingga produksi masih dipegang oleh satu home industri saja.


Adapun kelemahan yang dimilikinya antara lain:
1. Pasokan bahan baku masih sulit didapat karena hanya tergantung pada satu peternak saja.
2. Peralatan yang digunakan masih tradisional sehingga dalam proses produksi memakan waktu cukup lama.
3. Tidak adanya sistem manajerial yang baik sehingga mulai dari proses produksi sampai pemasaran hanya dipegang oleh satu orang saja.
Peluang dari usaha yang dimilikinya antara lain:
1. Adanya tawaran dari supermarket yang akan membeli produk telur asin tersebut dalam yang jumlah besar.
2. Belum adanya pesaing yang begitu menonjol sehingga penjualan kewarung-warung setempat bisa diblokir hanya satu orang produsen.
3. Dapat membuka usaha yang lebih besar sehingga dapat mendatangkan finansial yang lebih tinggi dan juga menciptakan lapangan pekerjaan.
Ancaman dari usahanya adalah:
1. Produk makanan seperti telur asin tidak bisa bertahan lama sehingga kemungkinan busuk juga akan merugikan produsen.
2. Semakin kedepan bahan baku akan terus naik.
3. Biasanya, jika barang produksi tidak laku terjual maka hasil penerimaan tidak sebanding dengan pengeluaran.
4. Dalam pendistribusian kewarung-warung kemungkinan telur pecah sangat besar sekali dan jika konsumen mendapati kondisi telur yang busuk maka konsekwensinya adalah telur langsung dikembalikan keprodusen.


2.3. Proses Pembuatan Telur Asin
 Menyiapkan alat berupa ember, sekop, dan penggosok dari sabut kelapa.
 Bahan baku berupa telur bebek 200 butir yang sudah dipilih kualitasnya dari peternak, kemudian untuk bahan mediumnya yaitu abu gosok 10 bungkus, 1 bungkus dengan harga Rp 200, garam 2 Kg dengan harga Rp 5000, bata nerah ditumbuk dengan menggunakan martil sampai halus hingga berbentuk seperti pasir. Dari ketiga bahan tersebut dengan perbandingan 1:1:1 perlu ditambahkan air hingga 75%. Pemgolahan dimulai dari tahapan-tahapan sebagai berikut:

Tahap I
Telur yang tadinya didatangkan dari peternak masih berupa telur mentah yang masih berlumuran dengan kotoran bebek, sehingga perlu dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan air dan disikat dengan menggunakan sabut kelapa. Telur bebek sebelum dibuat telur asin terlebih dahulu diseleksi apakah telur tersebut busuk atau tidak dengan memasukkannya kedalam baskom berisi air. Kalau telur tersebut terapung maka telur tersebut sudah dapat diidentifikasi bahwa telur tersebut busuk sehingga tidak layak untuk dibuat. Jika tidak diseleksi terdahulu yang ditakutkan adalah ketika nanti sudah dibungkus dengan medium, didapati telur yang busuk maka akan mempengaruhi telur yang normal lainnya sehingga telur yang normal pun rasanya akan tercium bau busuk. Telur bebek yang dibersihkan harus dalam keadaan mengkilap sudah dipastikan tidak ada kotoran lagi yang menempel. Telur sudah siap untuk dibungkus dengan medium.

Tahap II
Pencampuran medium, abu gosok, garam dan serbuk bata merah terlebih dahulu ditempatkan diwadah yang lebar sehingga nanti ketika dicampur dengan air, air tersebut tidak banyak yang tumpah. Pencampuran medium dilakukan dengan menggunakan sekop, dan kemudian diaduk-aduk sampai rata. Perlu diperhatikan bahan yang digunakan sebagai medium seperti abu gosok, serbuk bata merah, garam harus memenuhi perbandingan yang telah disebutkan diatas yakni 1:1:1 jika salah satu ada yang kekeurangan atau berlebih maka akan berpengaruh pada kualitas rasa. Misal terlalu banyak komposisi abu gosok maka hasil rasanya pun akan terasa hambar. Terlalu banyak bata merah juga dapat berpengaruh dalam penyerapan larutan garam kedalam lapisan cangkang telur sehingga dapat menghambat proses masuknya larutan garam secara difusi. Jika terlalu banyak garam yang pasti rasanya sangat asin sekali. Oleh karena itu semua komposisi perbandingannya harus sama.

Tahap III
Telur yang sudah dicuci bersih siap untuk diblebet dengan campuran medium tersebut, hingga cangkang telur tidak kelihatan. Setelah telur yang jumlahnya 300 sudah terbungkus dengan medium maka proses akhir adalah menempatkan telur keember, kemudian ditempatkan diruangan yang agak lembab dengan kondisi kelembaban 21°C-28°C, biasanya pengusaha telur asin ini menempatkan telur didekat sumur yang tertutup karena kelembabannya lebih terjaga. Kalau kondisi ruangan terbuka maka sinar matahari yang masuk kedalam ember akan mengakibatkan telur itu mudah pecah. Setelah dikondisikan secara baik, telur yang sudah diblebet tadi didiamkan diember selama 10-15 hari.

Tahap IV
Setelah 10-15 hari maka telur siap dibongkar dari wadah, kemudian dicuci lagi dengan air dan siap untuk direbus. Dalam proses perebusan kondisi air yang ada didalam alat perebus tidak boleh sampai kering jadi prosentase air dalam panci harus setara atau penuh dengan kondisi telur yang dimasukkan. Jika keadaan air terlalu sedikit diperkirakan akan mengalami kekeringan sampai proses pengangkatan karena persedian air yang ada didalam panci perebus semuanya diserap oleh telur dengan bantuan energi panas dari kompor. Proses lamanya perebusan antara 15-25 menit sehingga dengan kisaran waktu tersebut keadaan telur benar-benar matang. Telur yang direbus tidak boleh melebihi waktu yang telah ditentukan, jika melebihi batas waktu, maka kemungkinan besar kondisi cangkang telur banyak yang pecah. Setelah proses perebusan selesai maka telur diangkat dari panci dan ditiriskan hingga dingin.

Tahap V
Tahapan demi tahapan sudah selesai,. Telur yang sudah ditiriskan hingga dingin siap untuk didistribusikan kewarung-warung. Biasanya pengusaha ini sekali merebus bisa mencapai 80 butir dan setiap telur yang disetor kesatu warung hanya 20-25 butir saja. Begitu mudah bukan proses pembuatan telur asin yang sangat simpel dan ekonomis.

Penerimaan (TR) = Nilai hasil produksi
= Harga/Unit (P) x Jumlah Produksi (Q)
TR = P x Q
= 1200 x 300
= 360000


Keuntungan (K) = Penerimaan (TR) – Total Biaya (TC)
K = 360000 – 286516,7
= 73483,3
Ratio R/C = TR/TC
= 360000/286516,7
= 1,26
Artinya jika total biaya yang dikeluarkan satu kali maka akan mendapat 1,26 kali lipatnya dan rasio > 1 maka usaha tersebut efisien dan menguntungkan.
Kelayakan B/C = Keuntungan (K) / Total Biaya (TC)
= 73483,3 / 286516,7
= 0,26 Tidak layak diusahakan karena nilai ratio kurang dari satu

BAB III
PENUTUP
3.1. kesimpulan
ketika awal-awal memproduksi suatu barang memang kemungkianan rugi sangat besar jikalau, dalam memproduksi suatu barang tidak menerapkan sistem manajemen yang terpadu, yang mana hal itu sangat ditakutkan oleh setiap individu seorang pengusaha dan itupun mudah sekali terjadi. Dalam proses produksi telur asin diatas kurang layak untuk diproduksi, karena nilai kelayakan keuntungan yang didapat tidak sesuai dengan total biaya yang dikeluarkan. Mungkin untuk bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar maka perlu diterapkan sistem manajemen yang baik sehingga jika ada penyusutan nilainya tidak terlalu tinggi.
3.2. Saran
Penulis sarankan dalam berbisnis apapun perlu diperhatikan kendalanya, baik dari faktor dalam maupun faktor luar sehingga begitu mendapatkan suatu masalah baru akan mudah untuk ditinjau ulang. Kesalahan tersebut akan tampak jelas jika seorang wirausahawan tersebut mau mengintropeksi perbuatan yang telah dilakukan dan akan sangat mudah untuk meminimalisir satu persatu kesalahan yang ada. Bagi pemula alangkah baiknya mencoba untuk berbisnis dengan tidak mengesampingkan kewajibannya sebagai seoarang mahasiswa. Kami berharap dengan adanya tugas kewirausahaan akan mampu mencetak pemuda-pemuda yang tangguh dan berani bersaing dalam dunia bisnis. Dan berani mengambil sebuah keputusan, resiko, dan tanggung jawab untuk rencana masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

Iwanto, Sutrisno.2002. Kiat Sukses Berwirausaha. Jakarta:Gasindo.
Lessem, Ronnie.1992. INTRAUSAHA. Jakarta:Pustaka Binaman Presindo.
Longenecker, Justin.G.2001. Kewirausahaan Manajemen Usaha Kecil. Jakarta:
Salemba Empat.
Tambunan, Justin.T.H.2002. Usaha Kecil dan Menengah Di Indonesia. Jakarta:
Salemba Empat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar